SINGGAH DI MENTAYA
Judul: SINGGAH DI MENTAYA
Penulis:
Zulfikar Muhammad Nugroho
ISBN:
978-634-258-116-2
Cetakan Pertama: Oktober 2025
Membaca puisi-puisi Singgah di Mentaya seperti sedang berdiskusi dengan diri sendiri, sebagai upaya mawas diri, introspeksi atas apa yang selama ini kita pahami tentang iman, ilmu, makna hidup dan cinta. Rupanya penyair mengajak pembaca untuk merenungkan kembali melalui pengalaman indera: penglihatan, pendengaran, dan hati nurani dalam menangkap fenomena di luar dan di dalam diri. Mungkin itulah tujuan penyair berpuisi. Pengungkapannya kadang lugas, kadang mendayu, penuh metafora, kadang mendalam, kadang menyimpan tanda tanya. Kesemuanya tetap unik dan menarik sebagai cara ungkap yang khas penyairnya. Nampak penyahian puisi adalah hasil dari pengalaman lahir dan batin penyair sendiri, sehingga pembaca seperti disuguhi kisah perjalanan batin sang penyair. Cukup mengasyikkan. Selamat dan terus berkarya.
Agung Catur Prabowo, S.Hut., M.P.
Penulis, Penyair, Ketua LSBO PWM Kalimantan Tengah
Membaca kumpulan puisi “Singgah di Mentaya” seperti kita mendengar musik karya Kitaro, yang lebih membawa kita untuk perenungan diri atau kontemplasi. Perenungan diri bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Sang Khalik. Seperti pada bagian “Kepingan Satu” yang kemudian disebutkan “Titah Diri”. “Titah Diri” seperti apa? Tentu titah sebagai makhluk yang sempurna yang diciptakan oleh Sang Khalik, titah diri sebagai pengabdi Sang Pemilik Kehidupan yang kemudian menyadarkan bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, kita hanya sekedar “singgah” di tempat yang dinamakan bumi ini. Hanya orang-orang yang beriman dan melakukan kebajikan, serta saling menasihati kepada kebaikan yang termasuk orang-orang beruntung. Dan, bagi yang tidak memanfaatkan waktunya dengan keimanan dan kebaikan maka “celakalah”.
Seperti pada puisi yang berjudul “Singgah di Mentaya”, Zulfi ingin mengatakan seperti itu, mungkin Dia terinspirasi oleh Qur’an Surat Al ‘Asr. Zulfi mengingatkan kepada kita dengan caranya sendiri dengan mengumpamakan “Mentaya” sebagai “Bumi”./Singgah di Mentaya/,/Tiada menetap sekejap berada/,/Cahaya cinta silaukan mata/,/Bergegaslah petik buahnya/,/Jika waktu bergulir sirna/,/Celakalah kita/. Tentu keindahan-keindahan yang tercipta di Mentaya “Bumi” yang patut kita syukuri dan kita manfaatkan sebaik mungkin untuk pengolahan daya hidup, namun jangan sampai kita terlena sehingga “mengelabui indera” yang pada akhirnya mencelakakan diri kita sendiri.
Yah, kenikmatan hidup memang terkadang melalaikan dan tempat yang ternayaman bagi kita untuk menentramkan hati kita adalah /Kunci yang terdiri atas empat digit angka, ialah judul sajak yang saat ini sedang kamu baca/. 1328 (Al Qur’an surat 13 ayat 28?). Selalu berzikir mengingat kepada Sang Pemilik Hati.
Zulfi yang notabennya adalah musisi, sangat jeli mimilih diksi dalam puisi-puisi untuk mewujudkan daya pikir dan daya imajinanya. Dengan bahasanya dia, dengan “memetaforakan” unsur-unsur yang tidak harus “vulgar” untuk menyampaikan rasa spiritual yang ia miliki. Terasa kita baca pada “Kepingan Satu Titah Diri”, demikian pula pada “Kepingan Dua di Balik Artefak”, meskipun pada Kepingan Dua ini Zulfi membalutkan dengan nuansa budaya lokal (Dayak). Dan pada “Kepingan tiga Notasi Cinta”, zulfi ingin bicara cinta, cinta kepada siapa? Entah, namun demikian Dia masih meminta /Jika diriku belum jua sadar makna kebajikan/, Tolong tampar aku dengan pesan terakhir Sang Junjungan/.
Mohammad Alimulhuda. Penyair, Sutradara, Ketua Lingkar Studi Teater dan Sastra Kampung (Terapung) Palangka Raya

Ulasan
Belum ada ulasan.