
GREAT RESET
Judul: GREAT RESET
Penulis :
Samas Adimisa Mishbah Habibie
Sahat
Diki Akhwan Mulya
Fatma Saqdiah
Kita hidup pada sebuah zaman yang tampak maju, namun diam-diam rapuh. Teknologi berkembang pesat, ekonomi bergerak cepat, tetapi bumi semakin lelah.
Hutan menyusut, air kehilangan kesuciannya, udara menebal oleh keserakahan, dan ironisnya manusia semakin terasing dari makna hidupnya sendiri.
Krisis yang kita hadapi hari ini bukan semata krisis iklim, pangan, atau ekonomi. Ia adalah krisis cara berpikir. Krisis relasi. Krisis kesadaran. Manusia modern terlalu lama memandang dirinya sebagai penguasa alam, bukan bagian dari kehidupan itu sendiri. Dari paradigma inilah lahir eksploitasi, ketimpangan, dan kehancuran yang kita warisi bersama.
Istilah Great Reset menemukan makna terdalamnya. Bukan sebagai agenda global, bukan sebagai rekayasa kekuasaan, melainkan sebagai panggilan nurani peradaban. Great Reset adalah ajakan untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bertanya: ke mana arah hidup manusia sebenarnya?
Buku ini tidak berbicara tentang mengulang sistem lama dengan wajah baru, tetapi tentang menata ulang kesadaran manusia dari pola pikir yang eksploitatif menuju perilaku ekologis yang beretika. Sebuah reset yang dimulai dari batin, tercermin dalam tindakan, dan bermuara pada keseimbangan kehidupan.
Perspektif ini, ekologi bukan sekadar isu lingkungan, melainkan fondasi perilaku manusia. Cara kita berpikir, mengonsumsi, memproduksi, dan mengambil keputusan adalah cermin dari cara kita memaknai kehidupan. Ketika perilaku manusia menyimpang dari harmoni alam, sesungguhnya manusia sedang menjauh dari jati dirinya sendiri.
Great Reset yang ditawarkan buku ini adalah proses kembali menyadari bahwa manusia tidak hidup di atas bumi, melainkan bersama bumi. Bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa banyak yang kita kuasai, tetapi seberapa bijak kehidupan kita jaga.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat krisis bukan sebagai akhir, tetapi sebagai tanda. Tanda bahwa peradaban membutuhkan pembaruan arah. Bahwa sudah saatnya manusia berhenti menaklukkan alam, dan mulai belajar mendengarkannya.
Ulasan
Belum ada ulasan.