
KRUSIAL GAP NEGARA BERKEMBANG VS NEGARA MAJU
Judul: KRUSIAL GAP NEGARA BERKEMBANG VS NEGARA MAJU
Penulis :
Samas Adimisa Mishbah Habibie
Sahat
Diki Akhwan Mulya
Fatma Saqdiah
Setiap bangsa memiliki mimpinya sendiri. Ada yang berlari cepat mengejar masa depan, ada yang berjalan pelan dihimpit oleh beban sejarah. Ada pula yang terjebak di tengah, tidak benar-benar tertinggal, tetapi juga belum sungguh melaju. Di antara berbagai perbedaan itu, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: jurang yang memisahkan negara maju dan negara berkembang bukanlah sekadar perbedaan angka, melainkan perbedaan cara hidup, cara berpikir, dan cara memaknai waktu.
Kemajuan bukan hanya tentang teknologi canggih, gedung pencakar langit, ataupun kekuatan ekonomi. Kemajuan bermula dari sesuatu yang lebih sederhana namun jauh lebih mendasar: kebiasaan hidup sehari-hari, kedisiplinan kecil yang mungkin tampak remeh, dan tanggung jawab personal yang tidak pernah selesai. Kerapian ruang mencerminkan kerapian pikiran; kebersihan lingkungan mencerminkan kejernihan batin; dan integritas individu mencerminkan arah suatu bangsa. Dari hal-hal kecil inilah masa depan terbentuk.
Buku ini mengajak kita melihat lebih dalam bagaimana sebuah bangsa tumbuh dari kebiasaan paling sederhana, berkembang dari cara pandang yang luas, lalu bergerak menuju kemajuan melalui persepsi ekonomi yang matang dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Setiap bagian saling terhubung, membentuk rantai panjang antara individu, masyarakat, institusi, hingga kepemimpinan. Sebab tidak ada pemimpin besar tanpa masyarakat yang dewasa, dan tidak ada masyarakat kuat tanpa individu yang bertanggung jawab.
Perbedaan antara negara maju dan negara berkembang bukanlah takdir, melainkan akumulasi pilihan-pilihan kecil yang dilakukan jutaan manusia setiap hari. Dari cara mereka membuang sampah, datang tepat waktu, menghargai kesepakatan, hingga bagaimana mereka memandang kegagalan dan masa depan. Ketika sebuah bangsa memulai perubahan dari dirinya sendiri dari rumah, dari jalanan, dari sekolah, dari cara berpikir maka seluruh struktur di atasnya ikut bergerak. Dan di situlah jurang itu perlahan mengecil.
Melalui buku ini, kita tidak hanya menelaah “perbedaan”, tetapi juga mencari kunci transformasi. Bahwa negara berkembang bukanlah “negara yang belum jadi”, tetapi bangsa yang sedang berproses. Dan proses itulah yang menentukan apakah ia akan tetap berjalan di tempat, atau melompat menjadi salah satu pusat peradaban baru dunia.
Semoga buku ini tidak hanya menjadi kajian, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kita semua memegang peran. Bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil dalam diri kita.
Ulasan
Belum ada ulasan.