RESESI KEADILAN
Judul: RESESI KEADILAN
Penulis:
M. Yunasri Ridhoh
Ahmad Fadhil Imran
Ahmad Faqhruddin A.R.
Editor:
Putu Ananda Devi Nugraha
ISBN:
978-634-258-644-0
Cetakan Pertama:
Januari 2026
Rp70.000
Order via WhatsAppJudul Resesi Keadilan sengaja dipilih untuk menandai situasi zaman yang kami (mungkin juga yang lain) rasakan, sebuah fase di mana keadilan tidak lenyap sepenuhnya, tetapi mengalami penyusutan-penyempitan makna dan daya kerjanya. Seperti halnya resesi dalam ekonomi, keadilan tidak hilang, namun kehadirannya terasa melemah dalam praktik sehari-hari. Istilah “resesi” digunakan bukan untuk menggambarkan kehancuran total, melainkan kemunduran yang perlahan, nyaris tak disadari. Dengan judul ini, buku ini ingin mengajak pembaca untuk membaca zaman secara lebih terusterang, bahwa problem kita hari ini adalah keadilan yang kian resesif.
Resesi keadilan dalam buku ini tidak dipahami sebagai peristiwa luar biasa yang selalu hadir dalam bentuk konflik dan kebijakan besar. Justru sebaliknya, ketidakadilan sering bekerja secara halus dan tampak normal. Ia hidup dalam aturan yang sah, prosedur yang resmi, dan kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyak ketidakadilan bertahan bukan karena orang-orang berniat jahat, melainkan karena sistemnya tidak pernah benar-benar diinterupsi-dipersoalkan. Karena itu, buku ini tidak langsung melompat ke isu besar, tetapi memulainya dari akar paling dasar, yakni cara kita berpikir, cara kita memahami dunia, dan cara kita memaknai posisi diri sendiri di dalamnya.
Buku ini berusaha menangkap dan mengungkap bagaimana resesi keadilan bukanlah fenomena yang terjadi dalam sekejap atau dalam bentuk ledakan besar, tetapi lebih seperti gelombang yang mengalir perlahan, tak tampak, dan semakin mengikis hakikat keadilan yang sesungguhnya. Dalam perjalanan hidup sehari-hari, kita seringkali terjebak dalam rutinitas yang tampak wajar, di mana ketidakadilan tersembunyi dalam lapisan-lapisan kebiasaan, aturan, dan norma yang sudah dianggap sebagai bagian dari kenyataan yang tak terbantahkan. Ketidakadilan ini bukan hanya dilihat dari sudut pandang individu yang dirugikan, melainkan juga bisa dilihat dari cara masyarakat secara kolektif menerima ketidakseimbangan yang ada.
Resesi keadilan terjadi dalam bentuk mekanisme yang sering kali tersembunyi dalam struktur yang tampaknya sah, tetapi beroperasi untuk mempertahankan ketidaksetaraan. Ini bukan hanya tentang ketidakadilan yang dapat dilihat secara langsung, seperti diskriminasi atau penindasan yang jelas. Tetapi lebih pada ketidakadilan yang bersifat sistemik, yang bekerja di balik layar dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi kita. Apa yang dianggap sebagai kebijakan yang sah, atau bahkan tradisi yang dihormati, bisa jadi sebenarnya menguntungkan segelintir orang dan merugikan banyak orang lainnya. Maka dari itu, buku ini mencoba menelusuri bagaimana cara berpikir kita dan pemahaman kita terhadap dunia seringkali menjadi landasan yang memperkuat ketidakadilan yang ada.
Buku ini akan membawa pembaca melalui refleksi tentang bagaimana kita, sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat, sering kali tidak menyadari dampak dari pola pikir yang telah terinternalisasi dalam diri kita. Pola pikir ini kemudian membentuk cara kita melihat dan merespons ketidakadilan. Dengan menabrak cara-cara berpikir ini, kita diharapkan dapat menyadari bahwa keadilan bukanlah sesuatu yang statis dan mudah dicapai, melainkan sebuah proses yang terus-menerus perlu diperjuangkan dan dipertanyakan. Buku ini ingin membuka ruang bagi pembaca untuk menggugat kebiasaan-kebiasaan yang telah diterima begitu saja, serta mendorong kita untuk berani mengkritisi norma yang selama ini dianggap sebagai kebenaran absolut.
Dalam perspektif ini, resesi keadilan tidak hanya menjadi masalah eksternal yang dapat diselesaikan dengan kebijakan besar atau revolusi, melainkan sebuah masalah internal yang membutuhkan perubahan dalam cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Tanpa perubahan mendalam dalam cara kita memandang dunia, segala upaya untuk mewujudkan keadilan yang sejati akan tetap terhambat. Karena itu, buku ini tidak hanya sekadar menampilkan gagasan tentang ketidakadilan, tetapi juga mendorong untuk mengembangkan kepekaan yang lebih tajam terhadap realitas yang ada.
Pembahasan mula-mula menunjukkan bahwa ketidakadilan tidaklah tumbuh di ruang hampa. Ia berakar dalam kesadaran, mengeras dalam struktur, dan diwariskan melalui kultur. Disitu ketidakadilan bekerja lintas arena, terutama pada ekologis, ekonomi, dan politik. Alam diperlakukan sekadar latar pembangunan, padahal di sanalah ketidakadilan berulang kali bermula. Dalam ekonomi, ketidakadilan disamarkan melalui narasi kerja keras dan persaingan adil, meski titik awal setiap orang jauh dari setara. Sementara dalam politik, ketidakadilan hadir dalam rupa partisipasi yang reduktif dan formalitas, disitu suara tidak benar-benar didengar, dan keputusan diambil jauh dari pengalaman warga. Rangkaian inilah yang membentuk apa yang kami sebut sebagai Resesi Keadilan, sebuah situasi ketika keadilan tampak manis di atas kertas dan di mulut penguasa, tetapi semakin pahit dalam kehidupan nyata.
Buku ini tidak dimaksudkan sebagai kitab kebenaran atau panduan moral yang selesai. Ia lebih ingin menjadi teman berpikir. Pembaca tidak harus sepakat dengan seluruh isinya. Silakan ragu, mengkritik, atau bahkan menolak argumennya. Kami menyadari ketidakadilan adalah medan yang kompleks dan penuh perbedaan sudut pandang. Buku ini justru berharap dapat memancing percakapan yang lebih jujur dan terbuka.

Ulasan
Belum ada ulasan.