TRANSFORMASI KITAB ARBA‘ĪN DI NUSANTARA Identitas Keilmuan dan Lokalitas Pemahaman Hadis
Judul: TRANSFORMASI KITAB ARBA‘ĪN DI NUSANTARA Identitas Keilmuan dan Lokalitas Pemahaman Hadis
Penulis:
Doni Saputra, M.Ag.
Ukuran:
xi, 222 hlm., 15,5 x 23 cm
ISBN:
978-634-258-384-5
Cetakan Pertama:
Desember 2025
Rp90.000
Order via WhatsAppSebelum abad ke XX materi khusus terkait kajian hadis di tanah Nusantara belum ditemukan, menurut para sarjana Barat materi yang banyak diajarkan pada saat itu adalah al-Qur’an, tafsir, sharaf, nahwu, fikih dan tasawuf. Lebih lanjut menurut mereka bahwa literatur hadis di Nusantara hanya berkutat sebagai objek hukum Islam dan materi intelektual pendukung.
Dari pernyataan itu nampaknya ada sisi yang terlupakan dan keliru, bahwasanya sejarah perkembangan literatur hadis sebenarnya bukan hanya sebatas itu. Kajian terhadap literatur hadis sudah berjalan pada abad XVII M. Dengan lahirnya trend penulisan kitab yang berpolakan arba‘īn. Kajian kitab arba‘īn di Nusantara didominasi oleh pengaruh an-Nawawī (w. 676 H) sebagai Founding Fathers literature arba‘īn yang paling terkenal. Dari sini kemudian munculah kitab Syarḥ Laṭīf ‘alā al-Arba‘īn Ḥadīṡan li Imām an-Nawawī, ditulis oleh ʿAbd al-Raʾūf al-Sinkilī (w. 1693 M) sebagai kitab Syarḥ arba‘īn pertama di Nusantara.
Buku yang ada dihadapan pembaca ini menyajikan informasi terkait bagaimana proses transformasi penulisan dan pemikiran kitab hadis ulama Nusantara. Menunjukan bahwa terkait proses sejarah penulisan kitab arba‘īn Nusantara dapat dikategorikan kedalam tiga periode. Pertama: abad XVII-XIX disebut dengan “Fase Awal Kajian”. Kedua: abad XIX-XX sebagai “Fase Kebangkitan dan Keemasan” dan Ketiga: abad XX-XXI sebagai “Fase Penyebaran dan Kontemporer Isu”. Dari ketiga periode tersebut fase kebangkitan dan keemasanlah yang menjadi embrio dalam perkembangan kitab arba‘īn dengan sistematika tersendiri seperti: at-Tarmasī (w. 1920 M) dengan mengumpulkan 22 hadis Tṡulāṡiyyāt al-Bukhārī, Hāsyim Asy‘arī (w. 1947 M) membuat hadis untuk landasan beramal warga Nahdatul Ulama (NU) dan al-Fadānī (w. 1990 M) yang mengumpulkan 40 hadis dari 40 kitab dan 40 guru yang berbeda. Transformasi sejarah dan pemahaman metodologis dari masing-masing kitab inilah yang kemudian menghasilkan sebuah perbedaan isu dan kaidah lokalitas oleh para author kitab arba‘īn. Hal ini dilandasi oleh berbedaan motivasi, tujuan serta keadaan lokalitas sosial-budaya yang berbeda pada masa kitab arba‘īn tersebut dibuat. Karena hal inilah isu dan karakteristik yang ditampilkan oleh masing-masing penulis seolah ada kesamaan dibeberapa bahasan namun terdapat celah perbedaan juga dibeberapa poin tertentu sebagai penjelasan menarik yang di tampilkan didalam buku ini.

Ulasan
Belum ada ulasan.